Mewaspadai Penyakit Miopi dalam Pergerakan Dakwah
Pernahkah saudaraku mengalami stagnansi dalam aktivitas dakwah? Tak tahu mau dibawa mana pergerakan dakwah yang setiap hari digadang-gadang? Pembinaan yang telah terlaksana hanya menghasilkan output sementara, sehingga tidak ber-impact pada kemajuan organisasi, bahkan potensi para kader yang seharusnya dapat dikembangkan menjadi kabur sia-sia. Nah, bisa jadi penyebab dari semua itu adalah penyakit miopi dakwah. Apakah itu? Yuk mari disimak dengan cermat uraian berikut.
Bismillah...
PENYAKIT MIOPI
Bismillah...
PENYAKIT MIOPI
Menurut
Wikipedia, miopi (dari bahasa Yunani : myopia, penglihatan-dekat)
atau rabun jauh adalah sebuah kerusakan refraktif mata dimana
citra yang dihasilkan berada di depan retina ketika akomodasi dalam
keadaan santai. Penyakit ini menyebabkan seseorang hanya mampu melihat obyek
dalam jarak dekat, dan tidak dapat melihat dalam jarak jauh.
Penyebab
miopi dapat bersifat keturunan (herediter), ketegangan visual atau faktor
lingkungan. Faktor herediter pada miopi pengaruhnya lebih kecil dari faktor
ketegangan visual. Terjadinya miopi lebih dipengaruhi oleh bagaimana seseorang
menggunakan penglihatannya, seperti seseorang yang lebih banyak menghabiskan
waktu di depan komputer atau televisi, atau seseorang yang menghabiskan banyak
waktunya dengan melihat obyek dekat tanpa istirahat.
Faktor
lingkungan juga dapat memengaruhi misalnya pada rabun malam yang disebabkan
oleh kesulitan mata untuk memfokuskan cahaya dan membesarnya pupil, keduanya
karena kurangnya cahaya, menyebabkan cahaya yang masuk ke dalam mata tidak
difokuskan dengan baik.
Dapat
juga terjadi keadaan pseudo-miopi atau miopi palsu disebabkan ketegangan mata
karena melakukan kerja jarak dekat dalam waktu yang lama. Penglihatan mata akan
pulih setelah mata diistirahatkan.
Miopi
bisa disembuhkan dengan beberapa model terapi. Pemakaian lensa kontak kacamata dengan
lensa sferis negatif merupakan pilihan utama untuk mengembalikan penglihatan.
Beberapa tindakan bedah juga dapat dilakukan seperti photorefractive
keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis
(LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi
penglihatan (vision therapy).
MIOPI DAKWAH
MIOPI DAKWAH
Salah
satu penyakit yang berbahaya dalam pergerakan dakwah adalah Miopi Dakwah.
Penyakit ini dapat menyebabkan gerakan dakwah kehilangan arah, karena hanya
disibukkan oleh hal-hal yang bersifat praktis dan kekinian. Aktivis dakwah
sangat sibuk, menyita seluruh waktu dan perhatian, namun seluruhnya hanya
terkait dengan menjawab persoalan dan target sesaat, karena tidak mampu melihat
jarak jauh.
Angka-angka,
hitungan bilangan, posisi dan kedudukan, memang penting dan diperlukan dalam
perjalanan dakwah. Seperti misalnya menetapkan target peningkatan jumlah kader,
“bertambahnya satu juta kader pada tahun 2012”. Ada
pula yang hanya bercorak lima tahunan, sesuai ritme dan ritual demokrasi.
Mereka hanya berbicara apa target 2014, menghitung hari menuju rivalitas
politik di tahun 2014, menghitung resources yang diperlukan untuk
memenangkan pertempuran politik di 2014. Tentu saja ini sebuah keharusan untuk
menang, namun tidak boleh terjebak hanya berhitung pada waktu yang sangat
pendek, 2014 saja. Seakan itu adalah segalanya, tanpa melihat ada hal yang di
balik angka dan target kemenangan politik tersebut.
Jangan
sampai gerakan dakwah hanya berhenti pada pencapaian target-target bilangan dan
posisi “sesaat” tersebut. Karena ada hal yang sangat penting, untuk apa satu
juta kader baru tersebut ? Akan diarahkan kemana potensi mereka ? Bagaimana
pula dengan penataan kader-kader lama? Bagaimana mengoptimalkan potensi kader
yang sangat beragam jenis dan kondisinya?
Menjadi
pemenang Pemilu dan Pilkada tentu sangat penting, namun ada hal yang sangat
penting, bagaimana mengelola kemenangan Pemilu? Bagaimana mengelola kemenangan
Pilkada? Apa korelasi kemenangan Pemilu dengan penguatan dakwah? Apa korelasi
kemenangan Pilkada dengan pengokohan kader dan struktur dakwah? Dan masih
banyak pertanyaan lainnya yang harus dijawab, setelah target-target angka dan
kedudukan tersebut tercapai.
GEJALA MIOPI DAKWAH
Ketika
saya menulis tentang bahaya miopi dakwah ini, bukan berarti bahwa kita sudah terkena
atau terjangkiti. Ini adalah sebuah peringatan dini dan sebuah upaya menjaga
orisinalitas dakwah yang sangat kita cintai, agar tidak terjatuh ke dalam
penyakit miopi yang bisa menghancurkan dakwah. Jadi, ini lebih merupakan sebuah
tindakan pencegahan sebelum terjadinya hal yang tidk diinginkan.
Para
pemimpin gerakan dakwah dan para aktivis harus mewaspadai berjangkitnya
penyakit miopi dalam menjalankan agenda dakwah. Di antara gejala Miopi Dakwah
adalah:
1.
Kehilangan Visi
Visi
(vision) merupakan ungkapan yang menyatakan cita-cita atau impian (want to
be) yang ingin dicapai di masa depan. Visi memberikan pernyataan tentang
tujuan akhir dari perjalanan kehidupan pribadi atau organisasi. Visi adalah
pernyataan luhur tentang cita-cita yang hendak dicapai. Bisa dalam bentuk visi
pribadi, visi keluarga, visi organisasi, bahkan visi negara. Visi menjadi
penunjuk arah yang pasti, ke mana langkah mesti diarahkan. Visi menjadi pemandu
perjalanan dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi dan negara.
Maka,
gerakan dakwah harus memiliki visi yang jelas dalam sepanjang perjalanannya.
Semakin jelas dan kuat visi yang dimiliki gerakan dakwah, akan semakin jelas
dan kuat pula pilihan jalan yang harus dilalui. Semakin jelas pula gerakan
dakwah memandang dan mendefinisikan penyimpangan yang terjadi. Semakin lemah
visi, semakin kabur pula pandangan tentang tujuan, sehingga memudahkan terjatuh
ke dalam penyimpangan.
Organisasi
yang tidak memiliki visi, atau kehilangan visi, akan membuat perjalanannya
mengalir begitu saja, terbang bersama angin yang berhembus. Menuju apapun,
dimanapun, entah namanya apapun. Lalu kapan dakwah akan sampai tujuan,
sementara tidak pernah mendefinisikan tujuan akhir? Gerakan dakwah melakukan
pemborosan potensi, karena kegiatan yang dilakukan tidak mengarah kepada suatu
visi yang jelas.
Dalam
pergerakan dakwah, pada awalnya visi telah ditetapkan dengan sangat kuat. Namun
saat berada dalam perjalanan, bertemulah dengan berbagai macam jenis godaan.
Tidak seluruh godaan itu pahit, bahkan sebagian dari godaan itu bercorak sangat
menarik. Jika gerakan dakwah tergoda untuk mengejar target-target sesaat
semata, akan menyebabkan pelemahan visi, bahkan dalam jangka waktu lama, bisa
terjatuh ke dalam kehilangan visi.
Begitu
terjadi pelemahan visi, maka semua pandangan dan perhatian hanya akan terfokus
menatap jarak dekat. Gerakan dakwah jatuh dalam penyakit rabun jauh yang sangat
membahayakan. Seluruh aktivitas yang dilakukan, terlepas dari bingkai visi yang
telah dicanangkan dari awal. Miopi bisa menghinggapi gerakan dakwah, sehingga
tidak mampu menatap visi yang sesungguhnya sudah ditetapkan dengan jelas.
2.
Tidak Memiliki Rencana Strategis (Renstra)
Rencana
Strategis (Renstra) dibuat oleh organisasi dan lembaga untuk menyongsong visi
masa depan seperti yang dicita-citakan. Ada profil ideal yang jelas, kondisi
seperti apa yang ingin diwujudkan duapuluh tahun ke depan, atau limapuluh tahun
ke depan, atau bahkan seratus tahun ke depan. Dari profil ideal tersebut,
pergerakan dakwah kemudian menterjemahkan ke dalam sejumlah rencana strategis
jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.
Ada
sangat banyak metodologi untuk membuat dan menetapkan renstra. Ilmu manajemen
organisasi sudah sangat berkembang, sehingga banyak pilihan teori dan
metodologi pembuatan renstra. Tentu saja semua pilihan itu bersifat ijtihad
yang perlu diuji kesahihannya di lapangan, dan tidak ada satupun yang terbebas
dari kekurangan. Namun, menggunakan sebuah metodologi tertentu akan memudahkan
gerakan dakwah membuat, menetapkan, mengimplementasikan serta mengevaluasi
renstra.
Mungkin
bagi sebagian kalangan aktivis, membuat renstra itu pekerjaan “berat” yang
tidak menyenangkan. Karena harus mengumpulkan berbagai data, harus “melukis”
gambaran ideal masa depan, pada kurun waktu duapuluh tahun ke atas. Beberapa
kalangan aktivis bahkan menganggap renstra sebagai momok yang harus dihindari,
karena membuat kepala pusing saat membuat. Gejala ini menandakan miopi sudah
menghinggapi mereka, karena terlalu lama menatap obyek dekat yang memikat.
Saya
sangat miris melihat gerakan dakwah yang berjalan tanpa renstra. Karena jika
berjalan tanpa renstra, pasti hanya melaksanakan agenda-agenda rutin yang
menjebak, dan melaksanakan rencana sesaat sebagai reaksi atas situasi dan
kondisi sekitar. Untuk sekedar menang pada tahun 2014 memang tidak memerlukan
renstra, karena program yang bercorak praktis saja bisa membuahkan kemenangan.
Namun kemenangan dakwah bukan hanya tahunan, yang diinginkan adalah tertanamnya
nilai kebaikan secara kokoh pada berbagai sisi kehidupan.
3.
Tidak Memiliki Program Jangka Panjang
Visi
dakwah direalisasikan dengan pembuatan rencana strategis, sedangkan renstra
diwujudkan secara lebih membumi dalam bentuk Program Jangka Panjang (PJP). Jika
sudah kehilangan visi, menyebabkan gerakan dakwah gagal menyusun renstra, dan
akhirnya tidak memiliki PJP. Ini adalah konsekuensi logis yang sambung
menyambung, karena PJP diturunkan dari renstra dan renstra diturunkan dari
visi.
Merekrut
kader dalam jangka waktu tertentu dan jumlah tertentu adalah program jangka
pendek. Memenangkan Pemilu 2014 adalah program jangka pendek. Memenangkan
pilkada adalah program jangka pendek. Karena terbatas oleh waktu yang sangat
pendek, dan sering memaksa mengeluarkan resources yang luar biasa besarnya.
Di
antara program jangka panjang adalah pendidikan dan pembinaan kader sesuai
potensi yang dimilikinya, serta menyiapkan lahan aktivitas bagi para kader
sesuai dengan kepentingan dakwah dalam jangka panjang. Mengelola negara
memerlukan banyak potensi, keahlian, dan harus menyiapkan sejumlah persyaratan
formal sesuai ketentuan. Untuk sukses mengelola negara dan pemerintahan, tidak
cukup dicapai dengan memenangkan pemilu dan pilkada.
Kadang
program jangka panjang ini kurang menarik dan dianggap kurang menantang. Lebih
menarik dan lebih menantang sesuatu yang jelas di depan mata, seperti
pertempuran politik dalam pemilu dan pilkada. Adapun penyiapan berbagai potensi
untuk menyongsong kemenangan jangka panjang, dianggap sebagai sesuatu yang
“ngawang-awang” atau utopis. Minimalnya dianggap sebagai “bisa ditunda” dan
berkategori “tidak mendesak”, dengan alasan “kita berjamaah masih lama”.
4.
Gerakan Dakwah Menyempit pada Satu Sektor
Salah
satu gejala miopi adalah menyempitnya perhatian gerakan dakwah kepada satu sektor
saja dengan mengabaikan sektor lainnya. Sebagai contoh gerakan dakwah
disempitkan hanya pada sektor tarbiyah atau pembinaan saja, seakan-akan dakwah
hanya mengurus pembinaan sumber daya manusia. Seakan-akan dakwah hanya urusan
mengaji dan membina diri menjadi pribadi salih. Padahal dakwah itu adalah upaya
menebarkan nilai-nilai kebajikan dalam seluruh sisi dan dimensi kehidupan,
bukan hanya pribadi, tapi juga keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Bukan
hanya individu, namun juga sistem.
Contoh
lainnya, gerakan dakwah diseret mengikuti ritme politik praktis, sehingga
menyempitkan pandangan hanya pada urusan politik saja. Seakan-akan harus menang
mutlak sekarang, harus menguasai kemenangan pilkada di berbagai propinsi,
kabupaten dan kota sekarang, harus unggul dalam pemilihan umum legislatif
sekarang, dan seterusnya. Seakan-akan kalau tidak menang dalam rivalitas
politik sekarang, dakwah akan hancur selama-lamanya. Inilah gejala miopi dakwah
yang membahayakan, karena hanya mengurus politik saja dengan mengabaikan
sisi-sisi strategis lainnya.
Jika
gerakan dakwah menyempit hanya fokus pada satu sisi saja, berarti telah melawan
fitrah dakwah yang bersifat utuh menyeluruh. Doktrin pemahaman dakwah yang
dibangun selama ini bisa runtuh, karena dakwah tidak menyentuh seluruh sisi
kehidupan, namun hanya satu sisi saja dengan meninggalkan lainnya.
5.
Mengabaikan Aset Masa Depan Gerakan
Jika
gerakan dakwah hanya fokus kepada satu sisi saja, berdampak mengabaikan banyak
aset masa depan. Kader-kader dakwah yang tersebar di berbagai wilayah dan
pelosok-pelosok daerah, memiliki potensi yang sangat beragam. Mereka adalah
aset masa depan pergerakan yang tidak ternilai harganya. Kesetiaan,
pengorbanan, perjuangan yang telah mereka lakukan setiap hari setiap saat, sungguh
tidak dapat dinilai dengan materi.
Sebagai
contoh, jika dakwah hanya fokus pada sisi tarbiyah, maka sekian banyak potensi
akan termubadzirkan karena tidak memiliki saluran berkegiatan. Hanya para
ustadz dan para kader yang berlatar belakang pendidikan serta pembinaan akan
terserap dalam program-program tarbiyah, sementara kader yang memiliki potensi
ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya akan terabaikan.
Demikian
pula jika dakwah menyempit hanya fokus mengurus politik, akan menyebabkan
sekian banyak kader yang tidak memiliki minat dan peluang politik menjadi
terbengkelai. Mereka terdiri dari kader yang berpotensi dan berdedikasi tinggi,
namun tidak bisa terlibat dalam kancah politik praktis dengan berbagai alasan.
Akhirnya mereka menjadi “pengangguran” di jalan dakwah, karena potensinya tidak
tersalurkan. Padahal merekalah yang sangat diperlukan dalam menyusun kemenangan
dakwah.
LANGKAH TERAPI
Sebagaimana
miopi pada umumnya, miopi dakwah juga bisa disembuhkan dengan serangkaian
terapi. Yang paling sederhana adalah pemakaian “lensa sferis negatif” untuk
mengembalikan penglihatan jarak jauh. Tindakan “bedah mata” juga dapat
dilakukan seperti model photorefractive keratectomy
(PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK).
Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi
penglihatan (vision therapy).
Dalam
konteks miopi dakwah diperlukan langkah terapi yang menyeluruh. Bukan
sekedar menggunakan lensa sferis negatif atau bedah mata dan terapi
penglihatan. Miopi dakwah tidak sekedar urusan mata fisik, namun mata hati,
bashirah dan ruhaniyah. Dengan demikian terapinya pun memerlukan sentuhan yang
menyeluruh, baik secara ruhiyah, fikriyah maupun idariyah (manajemen).
Kita
mulai dari pembersihan jiwa yang kontinyu. Aktivis dakwah tidak boleh terbelenggu
oleh motivasi duniawi, karena itu yang mengotori hati. Bersihkan jiwa dengan
kemurnian penghambaan kepada Allah. Kemudian mencerahkan pemikiran, menajamkan
konsep pergerakan. Kita bergerak berdasarkan visi yang jelas, dipandu oleh
rencana strategis yang jelas, dan mengemban program jangka panjang yang jelas.
Ditindaklanjuti dengan perbaikan manajerial, agar mampu mengoptimalkan semua
potensi kader dengan penataan yang serasi dan seimbang.
Semoga
Allah membimbing langkah dakwah kita, dan menjauhkan kita dari miopi dakwah.
Amin.
Tulisan oleh Ustadz Cahyadi Takariawan
dikutip dari hedline website jalanpanjang.web.id
Komentar
Posting Komentar