Keteraturan Dakwah
Bismillahirrahmanirrahim...
Apa kabar saudaraku?? Sudah menginjak Desember ternyata. Apa saja yang telah kita lakukan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya? mari sejenak kita introspeksi diri.
Sudah saatnya pula saya menasehati diri sendiri -yang masih banyak kekeliruan disana sini- apalagi tentang kesungguhan dalam berdakwah. Memang saya bukan sosok luar biasa yang sempurna ibadahnya, sempurna ilmu pengetahuannya, sempurna amal shalihnya. Akan tetapi dengan tulisan ini, saya berikhtiar agar pembaca sekalian berkenan mengingatkan insan ini jika suatu ketika berjalan di posisi yang salah.
---
Al-Haq bilaa nizham, yaghlibhul bathiil binizham
"Kebenaran tak tertata, pasti terkalahkan oleh kebatilan terstruktur" begitu nasehat Ali Radhiyallahu 'Anhu
Mungkin diantara kita sebagai aktivis, akhir tahun menjadi saat-saat dimana harus mempersiapkan diri mendapatkan amanah baru dalam sistem kepengurusan di organisasi yang diikutinya. Atau justru harus rela melepaskan jabatan yang sebelumnya telah diamanahkan. Maka inilah sisi yang sangat penting, yang membuat kita seharusnya siap dimanapun, dan kapanpun ditempatkan.
Ada banyak pelajaran ketika kita meyakini bahwa kita adalah batu-bata-batu bata yang menyusun bangunan dakwah ini. Ya, lagi-lagi tentang sinergitas dalam amal jama'i merupakan suatu kebutuhan. Bayangkan bila hal ini terabaikan maka bangunan yang seharusnya berdiri kokoh dan menawan, akan terlihat janggal akibat dinding yang berlubang. Dari lubang ini berdampak pada perlindungan dan keamanan yang kurang maksimal.
"Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung-burung. Maka mereka diatur dengan tertib." [An-Naml:17]
Ilustrasi yang menggambarkan sinergitas dapat kita lihat dalam aktivitas terbangnya burung-burung. Coba lihatlah, dengan formasi terbang membentuk huruf V seluruh kawanan burung mampu terbang 71% lebih jauh dibanding kalau terbang sendiri-sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab ketika seekor burung mengepakkan sayapnya, terciptalah arus angin bagi burung berikutnya. Yaitu burung yang ada dibelakangnya tapi agak serong sedikit. Dari sini terjadilah efisiensi energi yang luar biasa akibat energi ini.
Jika burung yang terdepan letih, ia akan mundur dan mengambil tempat di belakang kemudian segera akan digantikan oleh burung yang lain untuk memimpin perjalanan terbang. Lalu apakah hanya burung bagian depan yang bekerja? Tentu tidak! Burung-burung yang ada di belakang bertugas menyemangati kawannya yang ada di depan dengan mengeluarkan suaranya yang keras.
Setiap kali seekor burung keluar dari formasi, maka ia akan merasakan tekanan dan tolakan angin yang sangat kuat sehingga buru-buru ia akan kembali ke posisinya. Dan jika ada salah satu burung yang sakit atau terluka sehingga keluar dari formasi, segera akan datang dua burung lainnya yang menemaninya turun, untuk melindungi serta menolongnya. Mereka akan menunggu sampai kawannya ini sembuh atau justru mati, lalu mereka akan bergabung dengan formasi yang datang kemudian.
Inilah pelajaran untuk kita, meskipun datang dari bangsa burung. Karena Allah telah berfirman: "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam AL-Kitab, kemudian kepada Rabblah mereka dihimpunkan." [Al-An'am : 38]
Selain itu Allah memperjelas pentingnya sebuah barisan manusia yang teratur dalam surat cintanya yang diberi judul 'Barisan' / Ash-Shaff. Yang tidak sekedar gerak dan jalannya, tapi juga hati, pola pikir dan citarasanya, sehingga seolah mereka adalah sebuah bangunan yang tersusun kokoh.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalanNya dengan barisan yang teratur, seakan-akan mereka adalah bangunan yang tersusun kukuh". [Ash-Shaff:4]
Ada sebuah kisah menarik dari Ustadz Hasan Al-Banna tentang keteraturan ini. Suatu ketika al-Ustadz mengumumkan rihlah, sebuah tour ke Isma'iliyah. Para peserta berduyun-duyun datang dan berkumpul sebelum waktu yang ditentukan. Sama halnya dengan bus yang akan mengangkut mereka ternyata datang on time. Tak disangka jumlah peminat rihlah jauh lebih banyak dari jumlah bus yang tersedia.
Hingga tiba saatnya al-Ustadz mempersilakan para peserta naik bus. Beberapa pemuda berdesak-desakan memperebutan kursi di dalam bus. Melihat pemandangan yang demikian, al-Ustadz mengumumkan pembatalan rihlah. Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita tentang menjaga keteraturan, kedisiplinan, latihan i-tsar (mendahulukan saudaranya) dan menghormati yang lebih tua.
Semoga sharing siang ini dapat menjadi pematik bagi kita, khususnya para aktivis dakwah, bahwa keteraturan dalam beramal kolektif merupakan suatu hal yang penting. Jika kita telah meniatkan diri untuk berorganisasi, itu tandanya kita bersedia untuk diarahkan menuju tujuan bersama organisasi tersebut. Allah lebih mengetahui kemampuan setiap hambaNya, dan seberapa kuat ia menjalankan ujian keimanan.
Akhir kata, tetap semangat duhai saudaraku...
Kita berjuang bersama dalam jalan dakwah ini.
Wallahu a'lam bishshawwab.
---
Ide tulisan ini terinspirasi dari nasehat ustadz Salim A. Fillah.
Jalan Laksda Adisucipto Yogyakarta, 22/12/2015
Apa kabar saudaraku?? Sudah menginjak Desember ternyata. Apa saja yang telah kita lakukan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya? mari sejenak kita introspeksi diri.
Sudah saatnya pula saya menasehati diri sendiri -yang masih banyak kekeliruan disana sini- apalagi tentang kesungguhan dalam berdakwah. Memang saya bukan sosok luar biasa yang sempurna ibadahnya, sempurna ilmu pengetahuannya, sempurna amal shalihnya. Akan tetapi dengan tulisan ini, saya berikhtiar agar pembaca sekalian berkenan mengingatkan insan ini jika suatu ketika berjalan di posisi yang salah.
---
Al-Haq bilaa nizham, yaghlibhul bathiil binizham
"Kebenaran tak tertata, pasti terkalahkan oleh kebatilan terstruktur" begitu nasehat Ali Radhiyallahu 'Anhu
Mungkin diantara kita sebagai aktivis, akhir tahun menjadi saat-saat dimana harus mempersiapkan diri mendapatkan amanah baru dalam sistem kepengurusan di organisasi yang diikutinya. Atau justru harus rela melepaskan jabatan yang sebelumnya telah diamanahkan. Maka inilah sisi yang sangat penting, yang membuat kita seharusnya siap dimanapun, dan kapanpun ditempatkan.
Ada banyak pelajaran ketika kita meyakini bahwa kita adalah batu-bata-batu bata yang menyusun bangunan dakwah ini. Ya, lagi-lagi tentang sinergitas dalam amal jama'i merupakan suatu kebutuhan. Bayangkan bila hal ini terabaikan maka bangunan yang seharusnya berdiri kokoh dan menawan, akan terlihat janggal akibat dinding yang berlubang. Dari lubang ini berdampak pada perlindungan dan keamanan yang kurang maksimal.
"Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung-burung. Maka mereka diatur dengan tertib." [An-Naml:17]
Ilustrasi yang menggambarkan sinergitas dapat kita lihat dalam aktivitas terbangnya burung-burung. Coba lihatlah, dengan formasi terbang membentuk huruf V seluruh kawanan burung mampu terbang 71% lebih jauh dibanding kalau terbang sendiri-sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab ketika seekor burung mengepakkan sayapnya, terciptalah arus angin bagi burung berikutnya. Yaitu burung yang ada dibelakangnya tapi agak serong sedikit. Dari sini terjadilah efisiensi energi yang luar biasa akibat energi ini.
Jika burung yang terdepan letih, ia akan mundur dan mengambil tempat di belakang kemudian segera akan digantikan oleh burung yang lain untuk memimpin perjalanan terbang. Lalu apakah hanya burung bagian depan yang bekerja? Tentu tidak! Burung-burung yang ada di belakang bertugas menyemangati kawannya yang ada di depan dengan mengeluarkan suaranya yang keras.
Setiap kali seekor burung keluar dari formasi, maka ia akan merasakan tekanan dan tolakan angin yang sangat kuat sehingga buru-buru ia akan kembali ke posisinya. Dan jika ada salah satu burung yang sakit atau terluka sehingga keluar dari formasi, segera akan datang dua burung lainnya yang menemaninya turun, untuk melindungi serta menolongnya. Mereka akan menunggu sampai kawannya ini sembuh atau justru mati, lalu mereka akan bergabung dengan formasi yang datang kemudian.
Inilah pelajaran untuk kita, meskipun datang dari bangsa burung. Karena Allah telah berfirman: "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam AL-Kitab, kemudian kepada Rabblah mereka dihimpunkan." [Al-An'am : 38]
Selain itu Allah memperjelas pentingnya sebuah barisan manusia yang teratur dalam surat cintanya yang diberi judul 'Barisan' / Ash-Shaff. Yang tidak sekedar gerak dan jalannya, tapi juga hati, pola pikir dan citarasanya, sehingga seolah mereka adalah sebuah bangunan yang tersusun kokoh.
"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalanNya dengan barisan yang teratur, seakan-akan mereka adalah bangunan yang tersusun kukuh". [Ash-Shaff:4]
Ada sebuah kisah menarik dari Ustadz Hasan Al-Banna tentang keteraturan ini. Suatu ketika al-Ustadz mengumumkan rihlah, sebuah tour ke Isma'iliyah. Para peserta berduyun-duyun datang dan berkumpul sebelum waktu yang ditentukan. Sama halnya dengan bus yang akan mengangkut mereka ternyata datang on time. Tak disangka jumlah peminat rihlah jauh lebih banyak dari jumlah bus yang tersedia.
Hingga tiba saatnya al-Ustadz mempersilakan para peserta naik bus. Beberapa pemuda berdesak-desakan memperebutan kursi di dalam bus. Melihat pemandangan yang demikian, al-Ustadz mengumumkan pembatalan rihlah. Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita tentang menjaga keteraturan, kedisiplinan, latihan i-tsar (mendahulukan saudaranya) dan menghormati yang lebih tua.
Semoga sharing siang ini dapat menjadi pematik bagi kita, khususnya para aktivis dakwah, bahwa keteraturan dalam beramal kolektif merupakan suatu hal yang penting. Jika kita telah meniatkan diri untuk berorganisasi, itu tandanya kita bersedia untuk diarahkan menuju tujuan bersama organisasi tersebut. Allah lebih mengetahui kemampuan setiap hambaNya, dan seberapa kuat ia menjalankan ujian keimanan.
Akhir kata, tetap semangat duhai saudaraku...
Kita berjuang bersama dalam jalan dakwah ini.
Wallahu a'lam bishshawwab.
---
Ide tulisan ini terinspirasi dari nasehat ustadz Salim A. Fillah.
Jalan Laksda Adisucipto Yogyakarta, 22/12/2015

Komentar
Posting Komentar