Bidadari yang Terluka
Genderang
perang dipukul lagi. Kaum musyrikin masih terus memusuhi umat
Islam. Kali ini, aku berlaga di medan Perang Uhud.
Trang-tring-trang-tring!
Bukan main! Suaraku nyaring sekali. Aku bangga bisa
mendampingi Rasulullah membela kaum Muslimin. Manusia nomor satu itu selalu
menggenggamku dengan gagah berani.
“Hei, Kirga! Coba lihat ini!” aku berteriak kepada
Kirga, sahabatku.
Kirga menoleh kea rah yang kutunjuk. Disana, ada
seorang perempuan. Perempuan itu begitu gigih membantu para pejuang. Dia
membawakan air dan mengobati luka-luka para pejuag.
“Siapakah perempuan itu,Kunda?” Tanya Kirga.
“Entahlah,” jawabku.
Aku dan Kirga melanjutkan pekerjaan kami. Ya,aku Kirga
adalah sebilah pedang. Kami bersama kawan-kawan yang lain bertugas membantu
Rasulullah melawan orang-orang kafir.
Triang! Hiyaaaa…! Aku beradu dengan pedang miliki musuh. Aku
selalu mengikuti ayunan tangan Rasulullah.
Kulirik Kirga. Dia berada di genggaman sahabat
Rasulullah. Dia juga sedang mengikuti liukan-liukan tangan ahabat Rasulullah
itu.
Alhamdulillah, sebentar lagi umat Islam menang.
Tak lama kemudian, Rasulullah memberi aba-aba. Beliau
memberi taktik selanjutnya.
Oh, umat Islam terlalu senang karena hamper mencapai
kemenangan. Ini membuat pasukan Islam tidak lagi mendengar aba-aba dari
Rasulullah. Celaka! Pasukan Islam lengah dan … aaahhh, kaum musyrikin itu
menang!
Aku menangis tersedu-sedu. Aku sedih. Sahabatku
Kirgajuga sedih. Pasukan Islam lari pontang-panting.
“Rasulullah, izinkan aku ikut melawan musuh-musuhmu!”
teriak seorang perempuan.
Kulihat Rasulullah mengangguk.
Aku menoleh. Subhanallah! Perempuan itu! Perempuan
yang tadinya membantu mengobati luka-luka para pejuang, kini ikut bertempur!
“Kirga, lihatlah perempuan itu. Dia ternyata pan..”
belum selesai aku berbicara, tiba-tiba ada yang mengangkat tubuhku.
Oh, perempuan itu menggeggamku! Dia cekatan sekali
memainkan diriku. Ternyata, dia pandai memainkan pedang!
“Nasibah, hat-hati! Banyak musuh mengintai!” teriak
Rasulullah.
Oh, aku beru tahu. Nama perempuan itu adalah Nasibah.
Dia terlihat begitu semangat membela agamanya. Semua musuh dilawannya. Mereka
diajak bertarung hingga titik darah penghabisan.
“Duh!” tiba-tiba. Nasibah terduduk. Aku terlempar dari
tangannya.
Oh, ya Allah… perempuan hebat itu terluka! Darah
mengalir dari tangannya. Beberapa pejuang membawanya ke luar arena perang.
Aku memejamkan mata memohon kepada Allah. Ya Allah selamatkan bidadari itu. Izinkan
dia hidup lebih lama. Aku ingin terus bersamanya membela agama-Mu, ya Allah!
Alhamduillah, Allah mengabulkan doaku. Nasibah masih terus
bersamaku membela agama Islam dalam Perang Al-Aqabah, Hudaybiyah, Khaibar, dan
Hunain.
Aku bangga kepada perempuan itu karena dia gigih
berjuang. Aku yakin, Allah telah
menjanjikan surga untuknya. Perempuan
itu adalah sang bidadari yang dulu pernah terluka.
*~@/sekian\@~*
Komentar
Posting Komentar