KERINDUAN YANG SALAH ALAMAT
Kerinduan itu selalu ada dalam
diri kita, pada apa saja. Karena ia adalah harapan, cita-cita, dan impian kita
untuk memperoleh atau meraih sesuatu yang baik. Akan tetapi, tidak selamanya
kerinduan itu berujung pada keberhasilan yang memberi manfaat. Karena
seringkali kita menambatkan kerinduan itu pada sesuatu yang salah, pada
alamat-alamat yang keliru. Sehingga bukan maslahat yang kita dapat, tetapi
mafsadat yang kita tuai.
Suatu hari, di salah satu rumah di Madinah,
Umar bin Khattab duduk bersama para sahabatnya.Lalu ia berkata “Bercita-citalah
kalian”. Satu persatu, mereka kemudian mengutarakan cita-citanya. “Alangkah
indahnya jika rumah ini dipenuhi emas sehingga bisa kuinfakkan di jalan Allah,”
kata yang pertama. “Aku ingin rumah ini dipenuhi intan mutiara agar dapat
berinfak dan bersedekah di jalan Allah,” tutur yang kedua. Dan seterusnya,
sampai tidakada lagi angan yang bisa mereka keluarkan.
Terakhir giliran Umar menuturkan
cita-citanya sendiri. Katanya, “Kalau aku, merindukan kehadiran pemuda seperti
Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, dan Salim Maula Abu Hudzaifah, yang
dengan mereka aku berjuang menegakkan kalimat Allah.” Semoga Allah merahmati
Umar. Itulah kerinduan yang benar, kerinduan yang beralamat jelas.*
Sekarang ini, ditengah situasi
negeri kita yang tidak menentu, sebenarnya kita merindukan pahlawan,
mendambakan figur yang membimbing, memberi contoh dan rasa aman. Sayangnya,
kerinduan itu seringkali tidak menemukan sasarannya.
Ada orang yang mencari
kebahagiaan dengan menebar “cinta” diluar sana. Pada hal-hal yang tidak saja
buruk, tetapi berbahaya dan membawa celaka. Betapa banyak pejabat yang
terjungkal dari kursinya karena salah memberi cinta dan keliru menyimpan kasih saying.
Ada hasrat dalam dirinya pada kesenangan. Tapi itu disalurkan pada tempat yang
salah. Pada klub-klub malam, pada wanita-wanita penghibur, pada
perempuan-perempuan simpanan, dan sebagainya. Padahal ia bisa menemukannya di
rumah tangganya, bersama istri dan anak-anaknya, yang alamatnya jelas dan tak
pernah berubah.
Ini adalah peringatan untuk kita,
selama kita mengaku sebagai Muslim. Bahwa kerinduan kita akan kemuliaan,
kemenangan, dan kekuatan tidak akan bisa dicapai jika kita menanggalkan
keislaman kita. Semoga Allah senantiasa meneguhkan Islam itu dihati-hati kita,
agar ia tidak kita pandang sebelah mata, seperti pakaian yang kekecilan
sehingga kita merasa perlu tambahan pakaian di luar pakaian Islam.
*Dikutip dari salah satu rubrik majalah Tarbawi, edisi 182 Th.10, Rajab 1429, 3 Juli 2008.
Sleman, 27 Jumadil Awal 1438 H
Komentar
Posting Komentar